Rabu, 15 April 2009

Kunjungan ke UKM Lingkungan “Kelompok Wanita Karya Melati”

Kunjungan ke UKM Lingkungan “Kelompok Wanita Karya Melati”

Beberapa saat yang lalu saya berkunjung dengan teman-teman ke suatu UKM, yaitu UKM lingkungan “Kelompok Wanita Karya Melati” di Jl. Kelud Raya Semarang. UKM ini dirintis oleh ibu suwarsih, ibu lurah Petompon.Usaha ini mulai dirintis sejak 20 Desember 2008
ibu Suwarsih, sebagai pemrakarsa pendiri UKM “kelompok wanita karya melati”, telah mengikuti kegiatan “Masyarakat Peduli Lingkungan “ sejak tahun 2006. Kelompok ini telah memberikan pelatihan- pelatihan di kelurahan-kelurahan dan di Hotel-hotel mengenai perlunya kita memperhatikan lingkungan di sekitar kita, seperti membuang sampah pada tempatnya, dan melakukan pemanfaatan kembali sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat, terutama sampah plastik yang sangat sulit terurai dalam tanah. Dan Ibu suwarsih sendiri ingin mengembangkan apa yang beliau peroleh selama ini dari kegiatan “Masyarakat Peduli Lingkungan” di Lingkungan sekitarnya Pendirian UKM ini pun dilatarbelakangi oleh keprihatinan ibu suwarsih melihat ibu-ibu di lingkungannya yang tidak memiliki kegiatan setelah tugas rumah tangga selesai dilakukan .Beliau tidak ingin ibu-ibu hanya “ngerumpi” setelah pekerjaan di rumah selesai.PKK yang dianggap sebagai “perempuan Kurang Kerjaan” pun ingin beliau hilangkan. Beliau ingin menunjukkan bahwa ibu-ibu rumah tangga adalah wanita yang memiliki potensi lebih.Oleh karena itu ibu Suwarsih mendirikan UKM ini. Ibu-ibu yang menjadi anggota kelompok ukm”Kelompok wanita karya melati “ ini sementara berjumlah 15 orang.
UKM ini pernah mengajukan permohonan dana dan mendapat 3 mesin jahit. Sebagai modal awal diperoleh dari Kelurahan sebanyak Rp 700.000,00 untuk membeli bahan- bahan dasar seperti kain, resleting,benang jarum.
Produk yang dihasilkan antara lain tas,bunga hias, sarung bantal, taplak, boneka dan dompet
Jenis Sampah bisa dimanfaatkan untuk kerajinan yang dihasilkan di UKM ini antara lain Bungkus mie instan, deterjen, pewangi, kopi instan; plastic; raffia; kain perca;
Karena waktu produksi yang terbatas, maka hasil yang dihasilkan pun tidak terlalu banyak. Untuk sarung bantal bisa menghasilkan 1 set tiap minggu. untuk taplak 1 taplak meja makan bisa dihasilkan dalam 1 minggu.

Proses Produksi dijalankan sebagai berikut: Setiap 1 minggu sekali yaitu hari selasa, ibu-ibu berkumpul di rumah ibu suwarsih. Mereka biasanya mendapatkan desain baru tentang kerajinan yang telah dibuat oleh ibu suwarsih. Ibu suwarsih di sini akan mengarahkan bagaimana cara membuatnya. Setelah ini, ibu-ibu akan mengembangkan desain ini dirumah. Ibu-ibu ini boleh mengambil bahan baku dari ibu suwarsih, ataupun membeli sendiri. Jika mengambil bahan baku dari ibu suwarsih, maka keuntungan dari penjualan akan dimasukkan kas.
Untuk penjualan,Produk dijual berdasarkan tingkat kesulitannya. Contohnya untuk tas harga jualnya adalah Rp 25.000,Rp 35.000,Rp 50.000. untuk bunga hias Rp 15.000, Rp25.000, Rp35.000.Semakin sulit pengerjaannya semakin mahal haganya
Selama ini pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut,tapi ada rencana akan mengikuti pameran. Produk dijual berdasarkan pesanan.
Hambatan yang diperoleh UKM ini adalah pada bagian pemasaran, karena pemasarannya masih mulut ke mulut. Ditakutkan barang produksi akan menumpuk selama pendistribusiannya belum bisa maksimal . pengembangan produk pun menemui kesulitan karena memikirkan desain baru sangat sulit. Butuh kreativitas yang cukup tinggi.
Dalam pengembangannya, ibu suwarsih juga masih merasa bingung. Beliau merasa perlu dukungan dari pihak terkait, karena selama ini kegiatannya di bawah naungan kelurahan. Apabila telah ada penggantian kepengurusan, apakah kegiatan ini bisa berjalan, dengan lurah yang baru. Tapi dalam pengembangannya, kegiatan di kelurahan petompon ini telah di contoh oleh daerah lain. Diantaranya kelurahan Terboyo dan daerah Tunjung Sari.dua daerah ini mengembangkan UKM seperti yang dijalan kan ibu Suwarsih.

Profil ibu suwarsih
Nama lengkap : Suwarsih Ruswan
TTL : Cilacap, 27 Agustus 1960
Alamat : Jl.Kelud Raya

EVALUASI KINETIK ISOTERMAL PADA PEMANIS

EVALUASI KINETIK ISOTERMAL PADA PEMANIS
Pemanis merupakan salah satu zat tambahan dalam makanan yang memberikan rasa manis. Salah satunya adalah aspartame. Pada makanan, faktor kinetik, yaitu suhu dan waktu, sangat penting karena faktor tesebut dapat menimbulkan dekomposisi dari komponen yang dapat menghasilkan senyawa baru. Oleh karena itu,pada jurnal ini akan dipelajari kinetic dekomposisi termal dengan isothermal metode.Untuk eksperimen, digunakan Thermogravimetry(TG) dan tinjauan kinetic. Pada Thermogravimetry digunakan kurva TG dinamik yang diperoleh dari profil TG dinamik.Sedangkan untuk tinjauan kinetik, digunakan metode isothermal yang didasari hukum Archenius (untuk menentukan mekanisme reaksi dan parameter kinetic dari dekomposisi termal pada sampel).
Profil TG aspartame hemihydrate terdiri dari 5 tahapan:
1. tahap pertama pada 30-82C
2. tahap kedua terjadi pada 82-157C di mana terjadi dehidrasi aspartame yang menyebabkan 0.77-1.97% massa hilang.
3. Tahap ketiga 187-218C terjadi dekomposisi aspartame secara stokiometrik melalui pembentukan methanol dengan kehilangan massa sebesar 10.55%
4. Tahap keempat 219-500C terjadi dekomposisi asam 5-benzyl-3,6-dioxopiperazineacetic ( produk yang dihasilkan dari degradasi thermal aspartame) dan menyebaabkan hilangnya massa sebesar 55.06%.
5. Tahap kelima, dekomposisi 5-benzyl causting pada rentang suhu 500-716C, massa yang hilang sebesar 30.44%.
Sementara itu profil dekomposisi termal dari α–lactose-monohydrate terdiri dari 4 tahap yaitu:
1. Tahap pertama, pada suhu 125-150C, hilangnya air terkristal dari lactose menyebabkan 4.58% dari massa hilang.
2. Tahap kedua (176-285C) besarnya massa yang hilang adalah 27.20%
3. Tahap ketiga 285-395C besarnya massa yang hilang adalah 34.88%
4. Tahap terakhir pada suhu 394-607C dimana besarnya massa yang hilang adalah 32.84%
Sedangkan pada pemanis, terjadi 7 tahapan kehilangan massa;
1. Pada tahap pertama sampai ketiga, pada suhu 26-64,66-86,dan 87-109C, besarnya massa yang hilang berturut-turut adalah0.9, 1.3, dan 1.8%. hal ini ditandai dengan lepasnya molekul air (dehidrasi).
2. Tahap keempat (114-191C) sebanyakk 11,3% massa hilang akibat dekomposisi aspartame dan lactose.
3. Pada tiga tahap terakhir ( 191-308,309-480,dan 482-645C) massa yang hilang sebesar 30.8, 20.9 dan 31.3%. Hal ini terjadi akibat dekomposisi asam 5-benzyl-3,6- dioxopiperazineacetic.



Pada thermogravimetry didapat hasil seperti berikut, kurva TG/DTG pada :

laktosa aspartame
. pemanis
Perbandingan data TG pemanis dengan TG aspartame dan lactose memperlihatkan bahwa ada hubungan antara aspartame dan lactose dalam pemanis, Yang diperlihatkan dengan adanya penurunan stabilitas termal pemanis dan proses dekomposisi.
Pada tinjauan kinetic yang berdasarkan pada hukum Archenius,data TG isothermal dikonversi dan dimasukkan ke persamaan Archenius.Hasil yang didapat adalah bahwa reaksi dekomposisi termal dari aspartame dan pemanis mengikuti mekanisme orde dua pada tahap pertama, dan mekanisme orde 0 pada tahap kedua dekomposisi. Oleh karena itu, konstanta laju reaksi (k) dihitung dengan persamaan Archenius.Korelasi linier dibuktikan antara ln k vs reciprocal temperature(1/T), sehingga energy aktivasi dan factor pre-eksponensial dari reaksi dekomposisi termal pada sampel dihitung dengan persamaan Archenius.Hasil parameter kinetik pada sampel yang diperoleh dengan metode isothermal adalah sebagai berikut:
Parameter kinetik aspartame pemanis
E/kj mol-1 171 118
328 140
A/s-1 244 E+15 4.73E+10
7.41E+34 1.83E+13
r 0.9897 0.9633
0.9932 0.9698
Dari data di atas terlihat bahwa pemanis memiliki energi aktivasi yang lebih rendah, yang menandakan bahwa stabilitas yang rendah .Konstanta laju reaksi yang dihasilkan dari metode isothermal mengikuti hubungan eksponensial dengan suhu.
Sumber:Journal of Thermal Analysis and Calorimetry, Vol. 79 (2005) 263–266
EVALUATION OF ISOTHERMAL KINETIC OF SWEETENER
Marta M. Concei__o1*, V. J. Fernandes Jr.1, F. S. M. Sinfrônio2, J. C. O. Santos3,
M. C. D. Silva2, V. M. Fonseca4 and A. G. Souza2