Sabtu, 28 Maret 2009
RESENSI BUKU THE LAST LECTURE(PESAN TERAKHIR)
RESENSI BUKU
THE LAST LECTURE(PESAN TERAKHIR)
-kisah nyata-
By:Randy Pausch(Professor, Carnigie Mellon)
Randy Pausch, divonis dokter bahwa dia hanya mempunyai sisa hidup 6 bulan lagi karena 10 tumor di tubuhnya. Saat dia diminta untuk memberi pesan terakhir di kampusnya, yang disampaikannya adalah mengenai mimpi-mimpi masa kecilnya dan mimpi-mimpi orang lain yang di wujudkan. Apa yang dia sampaikan adalah sesuatu yang luar biasa. Tak mengherankan video saat dia memberikan pesan terakhir di kampusnya diakses oleh lebih dari 6 juta orang di YouTube.com. Buku ini pun telah menginspirasi banyak orang. Lebih dari itu,sebenarnya Randy melakukan semua itu untuk ke-3 buah hatinya,Logan,Chloe, dan Dylan. Dia ingin mewariskan sesuatu yang berharga,karena Randy tahu bahwa dia tidak akan bersama buah hatinya ketika mereka tumbuh besar nanti. Hal yang luar biasa di buku ini adalah, cara Randy Pausch menjalani hidup setelah dia divonis hanya hidup 6 bulan lagi. Dia tidak pernah meratapi nasibnya,tetapi dia malah mempersiapkan segala sesuatu untuk keluarga dan orang-orang yang dia tinggalkan ,seperti asuransi,rumah baru,dan tentunya “Pesan Terakhir”ini. Tidak pernah dia meratapi hidupya secara berlebihan. Dia selalu ingin melakukan hal-hal yang bermanfaat.karena semangat hidupnya yang tinggi inilah membuat Randy Pausch hidup lebih lama dari perkiraan dokter. Namun pada akhirnya, Randy Pausch meninggal dunia pada usia 47 tahun pada 25 Juli 2008.
Sungguh hal ini bisa menginspirasi kita atas banyak hal. Diri kita yang sering membuang-buang waktu. Kita tidak pernah berpikir bahwa maut itu tidak ada yang tahu, selain Allah SWT. Mungkin Randy Pausch termasuk orang yang beruntung karena dia mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang lagi. Tapi dia bisa memanfaatkan waktu yang pendek itu untuk hal yang berharga, bukan malah meratapinya dan mengeluh. So, mulai sekarang,berbuatlah sesuatu yang berguna. Jangan ditunda-tunda. Jangan sampai kita menyesal kemudian, karena waktu terus bergulir meninggalkan kita, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya.
ZAT PEWARNA MAKANAN YANG BERBAHAYA
Di zaman yang telah maju ini,dimana informasi sudah berkembang, penggunaan zat tambahan makanan yang tidak sesuai masih banyak dilakukan. Misalnya zat pewarna makanan. Banyak zat pewarna yang seharusnya digunakan untuk tekstil malah digunakan untuk makanan. Hal ini tentu memprihatinkan.berikut ini salah satu hasil skripsi yang saya temukan membahas mengenai zat pewarna makanan yang tidak layak ditemukan di jajanan anak2. Berikut resume yang saya buat:
ANALISIS RHODAMIN B DAN METANIL YELLOW DALAM
MINUMAN JAJANAN ANAK SD DI KECAMATAN
LAWEYAN KOTAMADYA SURAKARTA DENGAN METODE
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Oleh WIRASTO
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2008
Warna merupakan salah satu hal yang penting dalam makanan,.. Oleh karena itu,, warna menimbulkan banyak pengaruh terhadap konsumen dalam memilih suatu produk makanan dan minuman. Salah satu produk makanan dan minuman yang paling sering ditambahkan dengan zat warna adalah minuman jajanan. Sampel minuman yang akan diteliti adalah minuman jajanan yang biasa dijajakan di Sekolah Dasar. Bahan pewarna yang digunakan dalam minuman jajanan tersebut dapat berupa alami maupun sintetik Zat warna sintetik itu sendiri sebenarnya ada yang aman dan boleh digunakan manusia untuk produk makanan dan minuman, namun ada yang membahayakan kesehatan sehingga tidak diijinkan penggunaannya (Djalil, dkk, 2005). Menurut Kep. Dir. Jend. POM Depkes RI Nomor: 00386/C/SK/II/90 tentang Perubahan Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan RI, kuning metanil dan rhodamin B merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produk-produk pangan (Anonim,1990).Maka, dilakukan penelitian terhadap sampel minuman jajanan yang diambil di Sekolah Dasar yang terdapat di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta. Minuman jajanan tersebut diduga menggunakan pewarna sintetik nonpangan, yaitu rhodamin B dan metanil yellow. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk membuktikan keberadaan zat warna nonpangan (rhodamin B dan metanil yellow) dalam produk makanan dan minuman
Rhodamin B adalah zat warna sintetik berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah). D & C Red 19 termasuk golongan pewarna xanthene basa (Marmion, 1984). Rhodamin B dibuat dari meta-dietilaminofenol dan ftalik anhidrid. Kedua bahan baku ini bukanlah bahan yang boleh dimakan Rhodamin B dapat digunakan untuk pewarna kulit, kapas, wool, serat kulit kayu, nilon, serat asetat, kertas, tinta dan vernis, sabun, dan bulu Rhodamin B bersifat karsinogenik pada tikus yang telah diinjeksi pewarna tersebut secara subkutan.
Metanil yellow adalah Zat warna sintetik berbentuk serbuk berwarna kuning kecoklatan, larut dalam air, agak larut dalam aseton. Metanil yellow merupakan senyawa kimia azo aromatik amin yang dapat menimbulkan tumor dalam berbagai jaringan hati, kandung kemih, saluran pencernaan atau jaringan kulit (Arief, 2007). Metanil kuning dibuat dari asam metanilat dan difenilamin. Kedua bahan ini bersifat toksik (Nainggolan dan Sihombing, 1984). Metanil
yellow merupakan pewarna tekstil yang sering disalahgunakan sebagai pewarna makanan. Pewarna tersebut bersifat sangat stabil (Gupta, dkk, 2003). Metanil yellow biasa digunakan untuk mewarnai wool, nilon, kulit, kertas, cat, alumunium, detergen, kayu, bulu, dan kosmetik (Anonim , 2007). Pewarna ini ini merupakantumor promoting agent (Gupta, dkk, 2003).
Kromatografi secara luas digunakan untuk pemisahan pewarnasintetik. Kromatografi kertas telah digunakan pada tahun 1950. Pada tahun1970an, penggunaan KLT lebih disukai oleh banyak laboratorium. Teknik ini masih digunakan oleh banyak laboratorium karena peralatan yang digunakan sederhana. Namun telah dikembangkan metode baru yang memberikan keuntungan yang lebih besar, seperti HPLC dan elektroforesis kapiler (Nollet, 2004).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang memisahkan, yang terdiri dari bahan yang berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang dipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Setelah plat atau lapisan ditaruh di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan
kapiler (pengembangan) (Stahl, 1985). Kromatografi lapis tipis (KLT) telah banyak digunakan pada analisis pewarna sintetik. KLT merupakan metode pemisahan yang lebih mudah, lebih
cepat, dan memberikan resolusi yang lebih baik dibandingkan kromatografi kertas. KLT tidak sebaik HPLC untuk pemisahan dan identifikasi, tetapi metode ini relatif sederhana dan dapat digunakan untuk memisahkan campuran yang kompleks. Meskipun demikian KLT tidak mahal dan dapat digunakan secara mudah di industry makanan (Nollet, 2004). Pada hakekatnya KLT melibatkan dua fase: sifat fase diam atau sifat lapisan, dan sifat fase gerak atau campuran larutan pengembang
Fase diam (larutan penjerap/ adsorben)
Pada semua prosedur kromatografi, kondisi optimum untuk suatu pemisahan merupakan hasil kecocokan antara fase diam dan fase gerak. Pada KLT, fase diam harus mudah didapat (Sudjadi, 1986). Dua sifat yang penting dari penjerap adalah besar partikel dan homogenitasnya, karena adhesi terhadap penyokong sangat tergantung pada mereka. Besar partikel yang biasa digunakan
adalah 1-25 mikron. Partikel yang butirannya sangat kasar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dan salah satu alasan untuk menaikkan hasil pemisahan adalah menggunakan penjerap yang butirannya halus (Sastrohamidjojo, 1991). Penjerap yang umum ialah silika gel, aluminium oksida, kieselgur, selulosa dan turunannya, poliamida dan lain-lain (Stahl, 1985). Silika gel merupakan fase diam yang paling sering digunakan untuk KLT (Sudjadi, 1986). Zat ini digunakan sebagai adsorben universal untuk kromatografi senyawa netral, asam, dan basa (Roth, dan Blaschke, 1998).
2) Fase gerak (pelarut pengembang)
Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Ia bergerak di dalam fase diam, yaitu suatu lapisan berpori, karena ada gaya kapiler. Yang digunakan hanyalah pelarut bertingkat mutu analitik dan bila diperlukan, sistem pelarut multikomponen ini harus berupa campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimal tiga komponen (Stahl, 1985).
| Pada proses serapan, yang terjadi jika menggunakan silika gel, alumina dan fase diam lainnya, pemilihan pelarut mengikuti aturan kromatografi kolom serapan (Sudjadi, 1986). Memang agak sukar untuk menemukan sistem pelarut |
yang cocok untuk pengembangan. Pemilihan sistem pelarut yang dipakai didasarkan atas prinsip like dissolves like, tetapi akan lebih cepat dengan mengambil pengalamanan para peneliti, yaitu dengan dasar pustaka yang sudah ada (Adnan, 1997).
3) Identifikasi dan harga-harga Rf
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan tipis lebih baik dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifikasi menggunakan harga Rf (Sastrohamidjojo, 1991). Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor retensi, Rf:
Jarak yang ditempuh pelarut dapat diukur dengan mudah dan jarak tempuh
Angka Rf berjangka antara 0,00 & 1,00 dan hanya dapat ditentukan dengan dua desimal. Angka hRf ialah angka Rf dikalikan faktor 100 (h), menghasilkan nilai berjangka 0 sampai 100 (Stahl, 1985). Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan harga-harga standard (Sastrohamidjojo, 1991).